«

Film: Pintu Harmonika (2013)

»

Ini tiga kisah tentang manusia yang harus tinggal di ruko. Di lantai atas kehidupan dan di lantai dasar penghidupan.

Cerita pertama datang dari ruko paling ceria karena hubungan akrab dan hangat antara Rizal (17) dan Firdaus (41). Hubungan Ayah dan anak ini sudah selayaknya sahabat saja. Rizal memang rajin membantu sang ayah di toko kelontong rukonya. Kombinasi pribadi supel, badan kekar, dan tongkrongan keren membuat Rizal di gandrungi siswi-siswi di sekolahnya. Ditambah lagi, pecinta Bruce Lee ini adalah selebriti dunia maya lewat blog dan twitternya.

Rizal menjadi orang lain dalam blognya. Ia bilang ayahnya hobi travelling ke luar negeri, ia diajak ke Angkor Wat oleh sang ayah, dll. Intinya, ia tidak mau mengakui kondisi keluarganya. Masalahnya, ia jatuh cinta dengan Cynthia, siswi cantik nan idealis serta mandiri, dan ia harus membantu Cynthia menggalang dana untuk kompetisi tari sekolahnya. Untuk menarik perhatian Cynthia, Rizal memanfaatkan kepopuleran dan pesonanya untuk penggalangan dana, serta dalam waktu bersamaan terus berbohong tentang keluarganya.

Cerita berikutnya dibuka dengan Juni (14) dan Niko (40) yang sedang membuka pintu rukonya. Berbeda dengan Rizal, hubungan Juni dan Niko dingin. Juni memang tidak pernah merasa betah di rumah. Niko sang ayah hanya memikirkan pekerjaan. Adiknya Diba (8) bandel dan selalu membuat Juni risih. Dan ibunya, Ines (39) sama sekali tidak mau menerima keluhan Juni. Bisa dikatakan, Juni bukan siapa­siapa di rumah. Maka dari itu, ia melampiaskan semuanya di sekolah dengan membully adik kelas.

Hari itu, bullying Juni sudah kelewat batas. Ia membuat Manda, adik kelasnya, jatuh tersungkur. Situasi kian memburuk ketika Juni tahu Manda adalah anak Kukuh, pelanggan setia Niko yang baru saja memesan 10 lusin baju, dengan opsi tambahan 10 lagi jika kantornya menyetujui. Akhirnya, Juni diskors selama lima hari dan selama itu pula Juni harus mendekam di rumah bersama keluarganya. Juni harus berhadapan dengan keluarganya dan usaha keluarganya yang terancam bangkrut.

Cerita terakhir ada di dalam ruko milik Imelda. Perempuan awal 30-an ini tinggal bersama David anaknya yang masih kelas 3 SD.. Toko Imelda itu sebenarnya cukup terkenal dengan kue malaikatnya. Strategi pemasaran lewat Facebook juga lumayan berjalan. Hanya saja pelanggannya berkurang jauh karena Imelda tidak bisa membuatkan senyum pada setiap kue malaikat yang ia buat.

Seperti kuenya, senyum seperti sudah hilang dari wajah Imelda. Ia lebih banyak melamun, seperti putus asa menjalani kehidupannya, atau kembali menonton permainan piano David, anak semata wayangnya. Imelda sendiri ingin terus menjadi ibu yang baik bagi David dengan segala rutinitasnya, tapi selalu terasa ada jarak dengan David. Semua makin membingungkan ketika Imelda sering mendengar suara-suara aneh di atas rukonya dan David ketakutan. Imelda berusaha menjalani dan menyelesaikan semuanya, walaupun semuanya semakin buntu baginya


Keyword: 700 Pictures, Bagus Bramanti, Barry Prima, Clara Ng, Comedy, Donny Damara, Drama, Fauzan Nasrul, Ginatri S Noer, Ilya Sigma, Indonesia,




Komentar