Refleksi Dunia Entertainment Dunia dan Indonesia
Jayus, Serem, Konyol, Fulgar, Merangsang dan Gak jelas… Sepertinya, Anda akan paham dengan apa yang akan saya bahas saat ini, ya ini adalah cerminan film-film Indonesia saat ini, genrenya kalau dibilang monoton, tapi “HIDUPLAH INDONESIA RAYA”, lah kok malah nyanyi?, di luar negeri juga hampir sama, mungkin bedanya, plot ceritanya yang beragam, jadi masih lebih bernuansa, walaupun disana lebih parah, karena film mereka kadang terlalu bodoh untuk di cerna, hanya permainan efek, kata-kata atau bahkan sesuatu yang gak penting. Menghamburkan cerita tentang kehidupan urban ala Amerika yang makin parah, ditambah dengan adanya adegan merangsang, atau ciuman yang cukup menggoda birahi. Mmm… tapi sepertinya hal ini yang sekarang di jadikan suguhan manis dalam setiap film.
Saya melihat perkembangan film dan serial drama selama ini, di Korea saja perkembangan drama serinya cukup menghenyak, dari yang biasanya masih malu dalam adegan ciuman, ya bisa dikatakan cuma adu bibir aja, kini sudah hampir sama dengan film-film Hollywood, walaupun masih agak canggung, kalau Anda sedikit jeli dalam melihatnya. Lalu segi kekejaman dalam drama, ini yang saya katakan YAHUD, kenapa?, walaupun ada dendam, marah dan lain sebagainya, mereka fair dalam menggunakan akal sehatnya untuk meraih kesuksesan, tidak dengan cara-cara licik atau bahkan mencelakai yang seperti di sinetron-sinetron kita.
Beradab, itu jenis film dan sinetron yang harus kita cari, kali ini film dan sinetron kita jauh dari peradaban manusia dengan logika tinggi dan status pendidikan yang baik, tapi kembali, kalau senias kita di kritik seperti ini, malah bukannya merenungi, menyelami maksud penonton, sebagai pecinta, penikmat dan pengkritik film, malah berbalik membuat argumen, membangun animo masyarakat lebih parah dari sebelumnya.
Hem, sekarang hampir anak muda, menyatakan film dengan bumbu ciuman, ada sedikit adegan merangsang, itu merupakan hal wajib untuk penyegaran? He ehm, jangan salah ini juga menjadi salah satu kegemaran orang tua yang memiliki penyimpangan, bukannya memberikan contoh yang baik ke anak-anak muda, malah semakin membuatnya tambah menjadi-jadi.
Kalau bisa dikatakan, siapa seh yang paling berhak disalahkan dalam film, sinetron yang ancur, gak mendidik?, kalau orang dalam urutan pertama, tentunya adalah penulis sekenario, dia merupakan orang paling bertanggung jawab dalam penyampaian dari setiap jengkal kata-kata dan adegan, tapi tunggu dulu, bukannya untuk sinetron misalnya, mereka adalah boneka yang distir untuk kemauan produser, yang hanya melihat pasar saja, tanpa melihat bahwa apa yang mereka sedang lakukan adalah sebuah upaya penyelewengan budaya, penyimpangan agama, dan lainnya?
Ya intinya, kita bisa nyatakan, semua yang berada dalam lingkaran film dan sinetron yang salah, adalah salah, tinggal Anda menyusun sendiri siapa-siapa saja yang bersalah di dalamnya, lantas mengapa pemain di dunia entertainment ini makin banyak?, tentu jawabannya klasik, uangnya gak nahan.
Oh iya, Asia yang memang sedang gencar-gencarnya bikin invasi film dan serial bagus, kini hampir saja menghilangkan sedikit budayanya, contoh India, semakin banyak cerita ancur, gak jelas, nuansa anak muda yang mirip-mirip dan membosankan, berbeda jika film itu dibintangi, bintang lawas yang sudah barang tentu menjadi film mahal, dan menduduki papan atas box office di negaranya. Sepertinya mereka masih percaya dengan kemampuan aktor dan aktris yang memang sudah barang tentu bisa menaikkan standar filmnya sendiri di masyarakat, sekaligus mendukung dari cerita mereka yang kuat. Di India, film sampah menjadi jajahan pendatang baru, setidaknya saya pikir ini menjadi salah satu test bagi pendatang baru untuk melihat dan bersaing dengan yang lainnya, membuat film yang terkesan sampah menjadi di luar garis sampah. Nilai budaya dari film-film sampahpun akibatnya tidak ada lagi, budaya India yang unik dan mengesankan, berganti menjadi ala budaya klub malam, kehidupan sex bebas yang menyenangkan.
Berbeda dengan dunia entertainment kita, wajah baru setiap saat, dan wajah lama yang berbobot, seakan menghilang dari permukaan bumi. Sayang hanya beberapa yang memang handal masih bisa bertahan di dunia entertainment Indonesia yang kejam. Tapi setidaknya di luar negeri, nilai budaya masih bisa di lihat walaupun kecil, di China sendiri, banyak film-film ataupun serial yang berupaya menguatkan budaya mereka, ini yang sepertinya sudah tidak terpikirkan oleh senias kita, BUDAYA, itu hilang, China tentunya semakin menduduki film Asia yang di terima di seluruh dunia, dengan kung-funya yang hebat, menarik, dan bahkan sekarang produksi film China sudah di dompleng oleh produsen-produsen film papan atas dunia, contohnya Warner Bros Pictures, dan Universal Studios yang menjadi langganan, sekarang Indiapun sudah mulai di lirik, bahkan di kombinasikan dengan budaya cina dalam film terbarunya 9 januari lalu. Chandni Chowk To China, yang cukup menghibur, dan kali ini dengan bintang lawas yang barang tentu di harapkan membawa efek bagus dalam film ini.
Nah ini yang mestinya kita contoh, bukan hanya bisa membuat film sampah yang gak penting.
Popularity: 9% [?]



Mungkin Anda pernah dengar dengan yang namanya Ibu Pinjaman? Jadi Anda menyewa seorang wanita untuk mengandung anak Anda, karena ketidak mampuan Anda untuk mendapatkan anugrah tersebut.

